Senin, 29 Mei 2017

Tokoh Sejarah dan Legenda Kota Waringin

Model diperagakan oleh Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kota Waringin 
Foto ini diambil sewaktu Karnaval budaya yang diselenggarakan di Desa Kota Waringin pada Tahun 2016 yang lalu. Menarik diangkat disini karena Tokoh-tokoh yang mereka perankan memang seperti menghidupkan kembali kehadiran mereka di Kota Waringin, karena bukan tidak mungkin sudah banyak dari masyarakat Kota Waringin sendiri sudah lupa atau bahkan tidak tahu adanya sejarah dan legenda di tempat kelahiran mereka sendiri.
Pada tulisan kali ini kami akan mengenalkan siapa saja tokoh yang mereka perankan, tidak secara rinci dan lengkap tetapi hanya ringkasan saja.

1. H. SJAKRONI
Tokoh ini adalah seorang Pejuang pada era kemerdekaan Republik Indonesia, terkenal akan perjuangan beliau yang berani mempertaruhkan harta benda bahkan nyawa melawan penjajah kolonial Belanda dengan menerapkan sistem perang gerilya setiap aksi dari H. Sjakroni menjadi suatu hal yang menakutkan penjajah Belanda kala itu.
Keberanian beliau sudah menjadi rahasia umum, sehingga Penjajah Belanda waktu itu akan memberikan imbalan yang menggiurkan bagi siapa saja yang berhasil menangkap H. Sjakroni hidup atau mati.
Diakhir hayat beliau menetap bersama istri dan anak-anaknya di Kota Waringin. Makam beliau sekarang berada di Pemakaman Keramat di Desa Kota Waringin.

2. LUNAS PERAHU
Sebuah legenda yang pernah terjadi di Kota Waringin. Di ceritakan tentang sepasang Kakak adik yang terombang-ambing di lautan, berhari-hari menahan lapar dan dahaga sehingga sampai kesekian harinya mereka sudah putus asa.
Dalam kebimbangan membuat amarah mudah sekali terpancing, sehingga ketika sang adik mengusulkan untuk singgah ke daratan terdekat sang kakak mengatakan bahwa tujuan mereka belumlah sampai, dan ketika sang adik mengusulkan kesekian kali untuk singgah didaratan yang sudah nampak di depan mereka, amarah sang kakak tidak terbendung lagi, ditebasnya perahu yang mereka tumpangi dengan sekali kibasan, sehingga terpotonglah perahu tersebut menjadi dua bagian.
Potongan perahu sang Kakak konon di kisahkan terdampar di Bangka Kota, sedangkan Potongan perahu sang Adik  yang perempuan terdampar di Kota Waringin.
Menurut beberapa pendapat dan keterangan orang tua, Kedua Kakak adik inilah yang menjadi Nenek Moyang di Bangka Kota dan Kota Waringin.
Beberapa tahun silam peninggalan legenda ini masih bisa dilihat dalam bentuk Tulang Tengah perahu yang terpotong yang oleh masyarakat lebih dikenal dengan Lunas Perahu, namun karena termakan usia dan di tumbuhi semak-semak tidak nampak lagi terlihat...

3. HARIMAU GARANG
Banyak versi nama dari Tokoh yang satu ini selain dari Harimau Garang ada juga nama yang lain seperti Demang Singa Yudha, Jong Krang dan lain sebagainya.
Berasal dari Padang Sumatera Barat, dengan perawakan besar tinggi sehingga menjadi momok yang menakutkan bagi Penjajah Kompeni...
Awal perjalanan beliau di Tanah Bangka bermula dari jasanya mengusir penjajah dari Kota Kapur dan mendengar berita semakin tersudutnya para pejuang di Kota Waringin, beliau bergegas bersama pasukannya menuju Kota Waringin.
Kehadiran beliau menjadi angin segar bagi para pejuang di Kota Waringin yang hampir kewalahan menahan gempuran dari Penjajah...
Sepak terjang beliau membuat penjajah yang ingin menguasai pelabuhan Kota Waringin menjadi kocar-kacir. berbagai upaya dilakukan untuk menghancurkan pertahanan Harimau Garang namun selalu gagal. Konon menurut cerita meninggalnya Harimau Garang karena terkena tembakan meriam di bagian kepalanya sewaktu menahan serangan dari arah sungai Kota Waringin.
Makam Harimau Garang berada dikawasan Pemakaman Keramat Kota Waringin, tanpa bentuk seperti umumnya makam lain Makam beliau hanya di tandai dengan pohon Keramutun yang tumbuh subur sebagai nisan beliau.

4. RAJA JUNGUR
Sebuah mitos yang sudah menjadi menu wajib bagi orang tua di Kota Waringin untuk menceritakan kepada anak cucu mereka. Tentang seorang Raja yang rakus dan egois, hobi makan sesuatu yang tidak lazim yaitu perut ayam, sehingga ketika pasokan makanan favorit beliau terhenti para prajurit kerajaan menggantikan dengan Cacing Rawa yang apabila diolah akan mirip dengan perut ayam makanan kegemaran sang Raja.
Lama-lama karena terlalu sering mengkonsumsi makanan tersebut wajah sang Raja berubah menjadi tumbuh moncong (Jungur) mirip Babi, karena sejatinya Cacing Rawa tersebut adalah makanan Babi. Ketika sang Raja menyadari terjadi perubahan pada dirinya, dia menceburkan diri ke Sungai dan menghilang...
Menurut para sesepuh desa lokasi yang menjadi tempat istana Sang Raja berada di kawasan Sungai Perai 3 Km dari pemukiman penduduk sebelah utara..

5. SAWERIGADING
Tidak ada cerita khusus Sawerigading di Kota Waringin, cuma menurut keterangan keturunannya. Sawerigading adalah orang dari Suku Bugis yang pernah menetap di Pulau Bangka.

6. KH. ABDUL MADJID
Seorang penyebar ilmu agama Islamdi Tanah Bangka, disamping itu juga beliau adalah orang yang sangat berani menentang penjajah Belanda.
Beliau berasal dari Banjar dan merupakan keturunan Bangsawan.
beliau menetap hingga akhir hayatnya di Kotawaringin (pada postingan kami sebelumnya cerita tentang beliau lebih lengkap.
http://harimaugarangktw.blogspot.co.id/2017/05/gusti-kacil-kh-abdul-madjid.html?m=1) dan dimakamkan di Pemakaman Keramat Kotawaringin.






Jumat, 26 Mei 2017

GUSTI KACIL (KH. ABDUL MADJID)

Di dalam buku sejarah Banjar tertulis Pangeran Muda (Pangeran Moeda) di dalam kitab Irsyyahdiyyah karangan Syekh Abdurrahman Siddik pada tahun 1910 selesai 1935, ditulis dengan nama Gusti Mas Muda dengan gelar Gusti Kacil keturunan dari Putri Junjung Buih dilahirkan di Martapura 1825, Gusti Kacil 3 bersaudara, Gusti Ismail, Gusti Mustopa, Gusti Kacil didalam isi kitab Irsyyahdiyyah menuliskan keturunan-keturunan Pangeran Surianata beristrikan Putri Junjung Buih yang menjadi Raja-raja Banjar dan keturunan Syekh H. Muhammad Arsad Al- Banjary adapun garis istilah keturunan Gusti Kacil sebagai berikut.

Gusti Mas Muda bergelar Gusti Kacil bin Pangeran Yusuf bin Gusti Maimunah bin Pangeran Bingking bin Pangeran KH Dipasanta, Pangeran KH Dipasanta wafat di Padang, Sumatera barat sewaktu membantu Imam Bonjol dalam perang Padri, penulis kitab Irsyyahdiyyah Syekh Abdurrahman Siddik pernah belajar ilmu agama dengan paman nya H. Muhammad As’ad, keturunan Pangeran KH Dipasanta di Padang, diatas garis keturunan Pangeran KH Dipasanta Pangeran Hidayatullah, Sultan Muhammad sampai Sultan Musta’in Billah dan seterusnya, Pangeran Muda atau Pangeran Mas Muda dengan gelar Gusti Kacil pernah memangku jabatan Teras di Kerajaan Banjar atau Kesultanan Banjar pada bulan April 1859, disusul dengan rapat besar di Kandangan pada tahun 1859.


Sebelum Gusti Kacil memangku jabatan Teras di Kesultanan Banjar di Martapura banyak Pangeran/ Sultan dan perangkat Kesultanan di tangkap dan ada yang diasingkan keluar Banjar seperti keluarganya Pangeran Hidayatullah dan ada juga yang tewas dibunuh oleh Komapani Belanda, dengan adanya itu Gusti Kacil sangat anti sekali dengan Kompani Belanda, maka terjadilah perang antara Kesultanan Banjar dengan Kompani Belanda pada Agustus 1859 di Martapura, peperangan di Martapura langsung dipimpin oleh Gusti Kacil dengan gagah beraninya dan kesaktian tinggi beserta siasat perang yang dimiliki Gusti Kacil melawan Kompani Belanda bersenjatakan sebilah keris peninggalan Putri Junjung Buih.
Pada peristiwa tersebut banyak pasukan Kompani Belanda menjadi korban maka dicarilah terus Gusti Kacil untuk ditangkap namun usaha Kompani Belanda untuk menangkap Gusti Kacil tidak berhujung berhasil, dibuatlah seyembara siapa yang bisa menangkap Gusti Kacil dalam keadaan hidup atau mati diberi upah sebanyak 250 F, sayembara ini juga tidak berhasil untuk menangkap Gusti Kacil, Kompani Belanda mendengar kabar yang mana satu-satunya yang bisa menangkap dan menaklukan ilmu Gusti Kacil seorang ulama yang berilmu tinggi dengan kesaktiannya beliau adalah Datuk Landak, nama aslinya Syekh Muhammad Afif anak dari Syekh H. Muhammad Arsad Al-Banjarydengan gelar Datu Kelampayan.


Maka dicarilah dan diundang Datu Landak untuk mengadap Komapani Belanda, namun Datu Landak tidak mau hadir mengadap Kompani Belanda, sebelumnya berita ini telah sampai di telinga Datu Landak, ini sangat bertentangan sekali dengan Datu Landak, tiada kompromi untuk Kompani Belanda bagi Datu Landak, selain dari itu dibelakang Gusti Kacil untuk melawan Kompani Belanda tidak lepas dari peran dan bantuan Datu Landak, ditambah lagi antara Datu Landak masih ada hubungan keluarga menurut kisah dari kakek saya Datu Landak sepupu Gusti Kacil ini sesuai juga dengan kitab Irsyyadiyyah yang ditulis oleh Syekh Abdurrahman Siddik.
Dengan adanya latar belakang diatas tadi tidak mungkin bagi Datu Landak untuk menangkap Gusti Kacil untuk diserahkan kepada Kompani Belanda maka musyawaralah Datu Landak dan Gusti Kacil dengan perangkat Kesultanan di ikut sertakan tokoh keluarga maka diambil keputusan yang mana Gusti Kacil harus meninggalkan Banjar demi keselamatan Gusti Kacil dan menghindar dari pertumpahan darah lebih banyak, dalam perjalanan meninggalkan Banjar pada tahun 1864 empat orang putra terbaik Banjar meninggalkan Banjar yaitu Gusti Kacil, Datu Landak, Gusti Mustofa ( abang Gusti Kacil), dan seorang Hulu Balang, Gusti Mustofa abangnya Gusti Kacil ini sebagian lidahnya hitam, untuk mengungkap keturunan lidah hitam istri saya Hj. Gusti Sri Dewi Pertiwi sebagian lidahnya hitam, saya nikah dengan istri saya kawin keluarga (sepupu), istri saya cucu Gusti H. Abdul Samad bin Gusti Kacil, saya sendiri cucu dari Gusti H. Abdul Hamid bin Gusti Kacil, selain dari istri saya ada juga keluarga keturunan Gusti Kacil yang berlidah hitam.


Sewaktu meninggalkan Banjar, Gusti Kacil, Datu Landak, Gusti Mustofa dan seorang Hulu Balang, meraung lautan memakai sampan, dilautan sampannya pecah, dua orang terdampar di Banten, Pulau Jawa, Gusti Mustofa dan seorang Hulu Balang, dua orang Datu Landak dan Gusti Kacil terdampar di Muntok, Pulau Bangka, sesampainya di Muntok, terdengar dan kelihatan oleh Tumenggung Muntok, ada dua orang pendatang yang asing baginya, yang taat solat, dan pintar membaca ayat suci Al- Qur’an. Pada suatu hari ada seekor kerbau gila mengamuk tiada seorang pun masyarakat Muntok yang sanggup menangkapnya, turunlah Datu Landak dan Gusti Kacil untuk mengamankan kerbau yang mengamuk.
Dengan kesaktian Gusti Kacil dan Datu Landak, kerbau tersebut jinak dihadapan Gusti Kacil dan Datu Landak, saat berada di Muntok, di Muntok tidak aman banyaknya terjadi perampokan setiap malam maupun siang hari, dengan adanya kesaktian Datu Landak dan Gusti Kacil menjinakan kerbau Gila, maka ditugaskan lah oleh Tumenggung Muntok Datu Landak dan Gusti Kacil untuk menangkap perampok, perampok pun tertangkap, kota Muntok pun menjadi aman. Dengan adanya kesaktian Gusti Kacil dan Datu Landak mau diangkat menjadi Hulubalang Temenggung Muntok, namun tawaran ini ditolak oleh Gusti Kacil dan Datu Landak.
Kesaktian ini menurun pada almarhum Idam cicit daripada Datu Landak, Alm. Idam banyak kelebihannya, semasa hidupnya seandainya beliau ke Banjar selalu berdampingan dengan Alm. Guru Ijai (KH Muhammad Zaini), selain dari itu cucu Datu Landak alm. Ustad Muhammad Thaib ulama besar di Pangkal Pinang, Bangka. Cucunya Alm. H. Jamaludin Sidik ulama besar di Tembilahan, Riau. Demikian juga dengan cicitnya H. Anang Zainal Ilmi di Martapura, Banjar, pernah belajar dengan Guru Ijai (KH Muhammad Zaini), sebagai murid kesayangan guru Ijai garis keturunan H. Anang Zainal Ilmi sebelah bapak keturunan dari Gusti Kacil, dari sebelah ibu keturunan dari Datu Landak. Dari garis keturunan Gusti Kacil banyak juga menjadi ulama besar di Pangkal Pinang, Bangka. Cucunya Gusti Kacil Alm. H. Suhaimi ulama besar dan Imam Masjid Jamik di Pangkal Pinang, Bangka. Cicitnya Alm. H. Umar Idris di Puding Besar, Bangka. Cucunya Alm. H. Gusti Abdul Wahab di Enok Tembilahan, Riau, cicitnya Alm. KH. Hasan Basri ulama terkenal sebagai sesepu pondok pesantren Darus Salam Pangkal Pinang, Alm. H. Sahak, murid sekaligus keluarga Gusti Kacil yang ilmu kebatinannya tinggi banyak dikenal oleh masyarakat Bangka.
Di Muntok Gusti Kacil dan Datu Landak menjalankan dakwah tentang agama islam dari desa ke desa lainnya, sampailah Gusti Kacil dan Datu Landak di desa Puding Besar, sekarang menjadi kecamatan Puding Besar, selama 33 tahun di Pulau Bangka, Datu Landak pulang ke Banjar pada tahun 1897, sesampainya di Banjar, Datu Landak ikut serta membangun dan memancangkan empat tiang utama di Masjid Martapura, tinggal lah Gusti Kacil sendiri di Puding Besar, Gusti Kacil tetap menjalankan dakwah agama islam dari desa ke desa lainnya, di Bangka setiap desa yang dikunjunginya untuk berdakwah selalu ditawarkan anak gadis desa untuk dinikahi, di Bangka Gusti Kacil mempunyai empat orang istri, sebelas orang anak. Dimasa tuanya Gusti Kacil menetap di sebuah tempat bernama kuta Beringin, pada waktu itu Kuta Beringin merupakan tempat yang cukup ramai karena adanya sungai besar diujungnya sehingga menjadi tempat berlabuh kapal-kapal dan perahu besar yang membawa barang dagangan ke tempat ini, kehadiran Gusti Kacil di Kuta Beringin semakin menambah ramainya tempat ini, ini dikarenakan banyaknya para pencari ilmu agama yang berdatangan terutama sekali dari desa desa tetangga serta para pendatang yang singgah sebentar di Kuta Beringin, Kuta Beringin sendiri berangsur-angsur penyebutannya menjadi Kotawaringin.. sewaktu  di Bangka Gusti Kacil mengubah namanya menjadi Atok H. Abdul Madjid, ini semua menghindar dari tangkapan Kompani Belanda.
Menurut kisah,Kompani Belanda sampai di Bangka mencari Gusti Kacil, sampai Gusti Kacil dan Datu Landak wafat, tidak terbongkar rahasia keberadaan Gusti Kacil dipulau Bangka.Gusti Kacil wafat di desa Kotawaringin pada tahun 1906, dalam usia 81 tahun, dikebumikan di desa Kotawaringin, di tanah Wakab Gusti Kacil, sekarang Desa Kotawaringin cukup maju dengan KK 665, dengan ibu kota kecamatan Puding Besar, jarak dari provinsi Babel Pangkal Pinang lebih kurang 65 Km, di desa Kotawaringin ini 30% penduduknya keturunan dari Gusti Kacil, di Bangka banyak sekali keturunan Gusti Kacil setiap pelosok maupun kota.


Gusti Kacil sewaktu meninggalkan Banjar membawa:

1. Sebilah keris pusaka dari Putri Junjung Buih ber lok sembilan, bergagang seperti kepala ular naga, dilapisi emas bertahta intan 99 biji, setiap malam jumat pusaka ini dimandikan dengan kembang dan dirabun (dihasapi ) dengan kayu garu.
2. Seperangkat Tape (kain) Putri Junjung Buih yang bermotifkan Sasirangan.
3. Sebuah tombak tapi sayang tombak ini sewaktu Gusti H. Abdul Samad bin Gusti Kacil wafat tidak tahu keberadaannya.

Apa saja peninggalan Gusti Kacil di desa Kotawaringin Bangka:

1. Rumah peninggalan Gusti Kacil pada saat ini telah diwariskan kepada cicitnya yang tidak terwat di karenakan usia yang sudah mencapai ratusan tahun.
2. Surau (Musollah) sekarang menjadi masjid, dahulunya tempat Gusti Kacil mengajar dan berdakwah tentang agama islam.
3. Benteng pertahanan di Kotawaringin sewaktu Gusti Kacil bersama pejuang masyarakat sekitarnya melawan Kompani Belanda.
4. Makam Gusti Kacil di Kotawaringin dalam bahasa Banjar Atang-atang, dalam bahasa Bangka Galang Makam, dalam bahasa Riau Batur didatangkan dari Singapura dibawa oleh anaknya Gusti H. Abdul Samad, makam ini belum diberi gubah.
Disalin dari :http://m.kompasiana.com/ahmadbuyung
dengan sedikit penyesuaian.

Kamis, 13 April 2017

Bersyukur

Sering kita merasa apa yang kita bayangkan atau yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan....sangat sering malah...
Namun terkadang sesuatu yang tidak kita bayangkan atau sama sekali tidak kita harapkan akan hadir menghampiri keseharian kita..
Seperti contoh; ingin rasanya makan daging sapi eh ternyata orang rumah masak rendang, tidak diharapkan sama sekali bukan?
Terkadang ingin makan ayam namun cuma dapat telur, yah walaupun telur adalah cikal bakal lahirnya ayam( ada juga pendapat ayam cikal bakal telur) tetap aja nggak sama guys..
Kepengen naik ojek eh dapet motor pinjaman, beruntung banget kan?
Namun demikian apapun yang kita dapatkan hendaknya iringilah dengan mengucapkan Syukur kepada Allah SWT...

 وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

Bayangkan saja dengan bersyukur kita dijamin akan mendapatkan tambahan nikmat dari Allah SWT, apa nggak mau tuh.... 
Namun yang sering kita lakukan apabila sesuatu yang kita harapkan tidak sesuai dengan Kenyataan atau bahasa bisnisnya" tidak sesuai target". Kita akan mengumpat, tidak terima, seolah-olah tidak mungkin jika hanya seperti itu, hanya sedikit yang di dapat... padahal Rasulullah SAW bersabda ;

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
  
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits inihasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667).

Untuk bersyukur itu tidak harus ketika kita mendapatkan rezeki yang melimpah....

Terus lah bersyukur berapapun nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita... termasuk nikmat sehat dan nikmat kesempatan...

Dan ber sedekah lah 

Sabtu, 30 Juli 2016

SEJARAH KOTAWARINGIN


Awal lahirnya sebuah Desa bernama Kotawaringin atau lebih umumnya oleh masyarakat dengan sebutan Kuta Beringin tidak ada yang tahu persis kapan dan siapa yang pertama kali bermukim didaerah ini. Ini dikarenakan tidak ada bukti tertulis yang menceritakan tentang hal tersebut. Adapun nama Waringin sendiri diambil dari nama Pohon Beringin yang kala itu tumbuh subur dipinggiran Sungai, sehingga oleh pendatang dinamakan sebagai nama tempat ini, dan embel-embel nama Kota didepan kata Waringin, dikarenakan ramainya pendatang yang mengunjungi daerah ini, entah itu para pedagang yang membawa dagangannya, ataupun pembeli dari daerah atau desa- desa disekelilingnya yang hendak bertransaksi dengan para pedagang dari seberang, pendek kata Kotawaringin dimasa itu merupakan pusat jual-beli yang cukup ramai sehingga lekat lah sebutan Kota di depan nama Waringin sampai sekarang. Ada pula versi yang lain tentang asal mula nama Kotawaringin, yaitu dengan banyaknya para pendatang waktu itu entah itu para pedagang, ataupun para pelarian yang mengasingkan diri karena penjajah Kolonial Belanda dan uniknya asal para pendatang tersebut berasal dari satu tempat yang sama yaitu Pulau Kalimantan tepatnya daerah Banjar, sehingga untuk mengenang tanah kelahiran  mereka maka disepakatilah nama tanah yang baru mereka injakkan kakinya dengan Nama Kotawaringin yang seperti kita ketahui di Kalimantan juga terdapat daerah yang bernama Kota Waringin.
Seiring berjalan waktu, peran Kotawaringin sebagai pelabuhan untuk melabuhkan kapal dagang akhirnya tergeser setelah perkiraan letak yang kurang strategis, serta ditambah lagi terjadinya pengikisan tanah ditepian sungai mengakibatkan sungai menjadi sempit sehingga kapal atau perahu yang berukuran besar tidak dapat masuk. Dan berangsur-angsur kondisi Kota Waringin semakin hari semakin ditinggalkan penduduknya, sebagian besar penduduk yang pindah dari KotaWaringin beralasan ingin mengadu nasib berkebun ditempat lain, karena hampir 70% tanah Kotawaringin berpasir sehingga tidak cocok untuk bercocok-tanam karena waktu itu yang menjadi andalan pertanian dipulau Bangka adalah Karet dan Lada .
Kotawaringin, sebuah Desa yang terletak di sebelah Barat Daya Pulau Bangka, dengan luas wilayah sekarang  ±  85,25 km² pada awal tumbuhnya populasi didaerah ini bermula dikarenakan Kotawaringin adalah wilayah yang stratregis sebagai tempat persinggahan para pengarung lautan entah itu pedagang maupun para pelarian sewaktu perang melawan para penjajah asing. Dengan adanya pelabuhan yang tersembunyi kala itu menjadikan kotawaringin mempunyai peran yang cukup penting untuk menerapkan Strategi perang Gerilya di bidang kelautan. Sehingga tidak mengherankan muncul nama-nama seperti Sutan dan Raja Alam Harimau Garang atau Demang Singa Yudha, dan Gusti Kacil atau yang lebih dikenal dengan KH. Abdul Madjid. Mereka adalah Tokoh-tokoh penting yang membawa perubahan untuk Kotawaringin khususnya dan Pulau Bangka Umumnya.

Selasa, 12 Februari 2013


Bagi teman-teman,saudara-saudara, bapak ibu sekalian jangan sekali-kali terpedaya dengan janji menghasilkan uang mudah hanya menyetor duit sekian dan menghasilkan berlipat-lipat ganda sesungguhnya harta itu dicari dengan usaha yang tekun dan kerja keras oleh kita sendiri,(pesan ini khusus di tujukan untuk para makmum Yayasan Amalillah yang tersebar di seluruh Indonesia,)berikut dibawah ini pengalaman pribadi saudara kita tentang yayasan penipu tersebut:



Isu Dana Revolusi Bung Karno, Hanya Menyuburkan Penipuan Saja!



Maraknya pemberitaan akan keberadaan harta bung Karno sebagai dana revolusi yang di simpan di sebuah bank di Negara Swiss yang bernilai triliunan rupiah sudah lama bergaung.
Isu ini mengingatkan saya akan keberadaan Yayasan Amalillah. Yayasan Amalillah diketuai oleh Raden Aiyon Suharis Restuningrat. Saat ini, kaki tangannya telah merambah di berbagai pelosok nusantara memburu mangsa.
Di kampung kediaman orang tua saya di pinggiran Palembang beberapa tahun yang lalu menyeruak berita gembira yang digembar-gemborkan beberapa orang oknum yang mengaku dari Yayasan Amalillah yang berkantor pusat di Jakarta.
Orang-orang ini, beberapa diantaranya saya kenal cukup dekat dan rupanya telah tertular virus ingin cepat kaya. Mereka direkrut dan telah dicuci otaknya sehingga mau berbuat apa saja untuk kepentingan Yayasan Amalillah.
Dalam usahanya mengumpulkan dana, setiap warga kampung yang berminat cukup menyetorkan uang sebesar Rp25 ribu per orang sebagai biaya administrasi dan pada saatnya nanti akan memperoleh hibah dana revolusi Bung Karno yang disimpan di luar negeri dan akan dibayarkan melalui Bank Indonesia.
Menurut pengakuan seorang pengurus yayasan ini yang telah membelot, kepercayaan mereka tumbuh karena ketika di Jakarta, mereka di inapkan di hotel berbintang dan kepada mereka diperlihatkan uang dalam jumlah besar dalam beberapa container. Uang ini adalah sebagaian saja dari sejumlah besar uang Bung Karno yang akan dihibahkan kepada rakyat miskin di Indonesia.
Beberapa tahun yang lalu menjelang lebaran tiba, berbondong-bondong masyarakat dari berbagai daerah datang berkerumun bahkan sampai menyewa rumah warga, mendirikan tenda-tenda di sekitar rumah ketua yayasan ini di kampung kediaman orang tua saya. Mereka datang menagih janji, menanti pembayaran dana hibah revolusi Bung Karno yang dijanjikan akan dibayarkan menjelang hari lebaran tiba.
Seperti telah di duga, Yayasan Amalillah tidak pernah menepati janjinya. Dan para korban penipuan ini kembali dengan tangan hampa.
Sekarang, kiprah Yayasan ini nyaris telah hilang gaungnya di seputar daerah kediaman orang tua saya. Namun luka yang ditimbulkannya akan selalu dikenang masyarakat kecil sepanjang masa.
Waspadalah
!

Sabtu, 17 Desember 2011


Saksi Bisu Sejarah Desa Kotawaringin
Berikut ini adalah komplek makam (pekuburan) Keramat Desa Kotawaringin Kecamatan Puding Besar Kabupaten Bangka Provinsi Kep. bangka Belitung. 
Makam makam Kuno yang Berumur Ratusan tahun tebentang disana-sini dan mereka membuktikan bahwa Desa Kotawaringin merupakan salah satu Pemukiman tertua di Bangka Belitung.
Diantara makam-makam tersebut diantaranya adalah para pejuang kemerdekaan , para penyebar agama Islam, dan para pendatang yang sampai hari ini identitas nya masih belum diketahui.






Tampak pada gambar adalah tim dari KemenBudPar Kabupaten Bangka, yang sedang menyelidiki makam-makam kuno di Desa Kotawaringin.










Makam H. Sjahroni Salah satu pejuang Kemerdekaan dari Desa Kotawaringin yang Bergelar Macan Bangka.










Makam Datuk Harimau Garang yang lebih dikenal dengan nama Demang Singa Yudha. Tak berbentuk hanya ditandai dengan tumbuhnya sebuah pohon Keramutun. Konon pohon ini tidak tersentuh oleh api sedikitpun ketika terjadi kebakaran hebat di pekuburan ini pada tahun 1999. padahal tumbuhan, dan beberapa makam disekelilingnya ikut terbakar.



Makam K H . Abdoel Madjid salah satu ulama terkenal pada masanya.






 Salah satu makam yang bentuknya unik dan tidak ada yang tahu makam siapa.karena tidak ada peninggalan apapun baik tertulis   maupun     lisan    ( cerita dari mulut kemulut )Agak rusak karena tekstur tanah dikomplek ini berpasir halus dan mudah longsor.



Temuan mencengangkan, hanya ada satu disini.Sebuah makam kuno yang dikelilingi dengan terumbu karang salah satu biota laut.banyak masyarakat desa yang tidak tahu dengan keunikan tersebut karena sekilas terlihat seperti batu biasa.









Salah satu makam tua. melihat bentuk nisan dan makam itu sendiri ini adalah makam seorang pendatang(perantau)